Yogyakarta – Komitmen pemerintah dalam mempercepat transisi energi menuju penggunaan energi yang lebih bersih terus menunjukkan perkembangan. Berbagai kebijakan untuk meningkatkan pemanfaatan energi baru dan terbarukan, mengurangi emisi karbon, serta mendorong investasi hijau menjadi bagian dari langkah strategis Indonesia dalam mendukung pembangunan berkelanjutan.

Transisi energi tidak hanya dipandang sebagai isu lingkungan, tetapi juga menjadi tantangan besar bagi dunia usaha. Perusahaan dituntut mampu menyesuaikan model bisnis, meningkatkan efisiensi operasional, serta berinvestasi pada teknologi yang lebih ramah lingkungan agar tetap kompetitif di tengah perubahan kebijakan dan tuntutan pasar global.

Dosen Manajemen Universitas Alma Ata, Dimas Wibisono, S.E., M.B.A., mengatakan bahwa keberhasilan transisi energi sangat bergantung pada kemampuan organisasi dalam mengelola perubahan secara terencana.

“Dalam ilmu manajemen, perubahan merupakan sesuatu yang harus diantisipasi melalui proses perencanaan yang matang. Transisi energi bukan sekadar mengganti sumber energi, tetapi juga menyangkut perubahan strategi bisnis, pengelolaan sumber daya, hingga budaya organisasi,” ujarnya.

Menurut Dimas, perusahaan perlu menerapkan fungsi-fungsi manajemen secara terpadu, mulai dari perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, hingga pengendalian agar proses transisi berjalan efektif. Setiap keputusan investasi maupun transformasi operasional harus didasarkan pada analisis yang komprehensif sehingga mampu meminimalkan risiko sekaligus menciptakan peluang baru.

Ia menjelaskan bahwa transisi energi juga menuntut para pemimpin perusahaan memiliki kemampuan membaca perubahan lingkungan bisnis. Meningkatnya perhatian investor terhadap praktik bisnis berkelanjutan menjadikan aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola perusahaan (Environmental, Social, and Governance) sebagai salah satu indikator penting dalam menentukan daya saing perusahaan.

“Manajemen modern tidak lagi hanya berorientasi pada keuntungan jangka pendek. Organisasi juga dituntut mampu menciptakan nilai jangka panjang melalui inovasi, efisiensi, dan keberlanjutan. Perusahaan yang mampu beradaptasi dengan perubahan akan memiliki peluang lebih besar untuk berkembang,” jelasnya.

Lebih lanjut, Dimas menilai bahwa transformasi menuju energi bersih juga membuka kebutuhan terhadap sumber daya manusia yang memiliki kompetensi lintas bidang. Lulusan manajemen memiliki peluang untuk berkontribusi dalam menyusun strategi bisnis, mengelola proyek transformasi, melakukan analisis investasi, hingga merancang kebijakan perusahaan yang selaras dengan prinsip keberlanjutan.

Di lingkungan perguruan tinggi, mahasiswa manajemen didorong untuk memahami dinamika ekonomi global, perkembangan teknologi, serta perubahan regulasi yang memengaruhi dunia usaha. Kemampuan berpikir strategis, analisis data, dan kepemimpinan menjadi bekal penting agar lulusan mampu menghadapi tantangan transformasi industri pada masa mendatang.

Transisi energi nasional bukan hanya menjadi agenda pemerintah, tetapi juga momentum bagi dunia usaha untuk memperkuat daya saing melalui inovasi dan tata kelola yang lebih baik. Dengan strategi manajemen yang tepat, perubahan tersebut tidak hanya mampu mengurangi dampak lingkungan, tetapi juga menciptakan peluang pertumbuhan ekonomi yang lebih berkelanjutan bagi Indonesia.