Yogyakarta – Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), transformasi digital, dan perubahan lanskap dunia kerja membuat banyak calon mahasiswa mulai mempertimbangkan jurusan yang memiliki prospek karier jangka panjang. Di tengah perubahan tersebut, Program Studi Manajemen Universitas Alma Ata dinilai tetap relevan karena membekali mahasiswa dengan kemampuan yang tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh teknologi, seperti kepemimpinan, pengambilan keputusan, komunikasi, dan penyusunan strategi bisnis.
Seiring meningkatnya penggunaan teknologi dalam dunia usaha, perusahaan tidak hanya membutuhkan tenaga kerja yang mampu mengoperasikan sistem digital, tetapi juga individu yang mampu mengelola organisasi, menganalisis peluang bisnis, dan mengambil keputusan berdasarkan data. Hal tersebut menjadikan kompetensi manajerial semakin dibutuhkan di berbagai sektor industri.
Dosen Program Studi Manajemen Universitas Alma Ata, Dimas Wibisono, S.E., M.B.A., mengatakan bahwa perkembangan teknologi justru membuka peluang baru bagi lulusan manajemen untuk berperan sebagai pengambil keputusan dan pemimpin organisasi.
“Teknologi dapat membantu mempercepat proses kerja, tetapi tidak dapat menggantikan kemampuan manusia dalam memimpin, menyusun strategi, membangun kolaborasi, maupun mengambil keputusan yang mempertimbangkan berbagai aspek organisasi. Kompetensi tersebut menjadi bagian utama yang dikembangkan dalam Program Studi Manajemen,” ujarnya.
Menurut Dimas, Program Studi Manajemen Universitas Alma Ata tidak hanya mengajarkan teori bisnis, tetapi juga memberikan pengalaman belajar yang mendekatkan mahasiswa dengan kondisi nyata di dunia usaha. Mahasiswa dibekali pemahaman mengenai manajemen pemasaran, manajemen keuangan, sumber daya manusia, operasional, kewirausahaan, hingga pemanfaatan teknologi digital dalam pengelolaan bisnis.
Proses pembelajaran juga dikembangkan melalui studi kasus, diskusi kelompok, presentasi, penelitian, serta kegiatan organisasi yang bertujuan melatih kemampuan berpikir kritis, kepemimpinan, dan penyelesaian masalah. Pengalaman tersebut menjadi bekal penting ketika mahasiswa memasuki dunia kerja maupun membangun usaha sendiri.
“Dunia kerja saat ini lebih menghargai lulusan yang mampu beradaptasi terhadap perubahan, memiliki kemampuan analisis yang baik, serta dapat bekerja secara kolaboratif. Karena itu, mahasiswa perlu memiliki pengalaman belajar yang tidak hanya berorientasi pada teori, tetapi juga pada praktik dan penyelesaian persoalan nyata,” jelasnya.
Lulusan Program Studi Manajemen Universitas Alma Ata memiliki peluang berkarier di berbagai bidang, seperti manajemen sumber daya manusia, pemasaran, perbankan, analis bisnis, konsultan, perusahaan multinasional, instansi pemerintah, rumah sakit, industri kreatif, hingga menjadi wirausahawan. Fleksibilitas tersebut menjadikan ilmu manajemen sebagai salah satu disiplin ilmu yang tetap dibutuhkan meskipun dunia kerja terus mengalami perubahan.
Selain itu, mahasiswa juga didorong untuk mengikuti berbagai kegiatan akademik maupun nonakademik sebagai bagian dari pengembangan kompetensi profesional. Kemampuan berkomunikasi, memimpin tim, mengelola proyek, serta memanfaatkan data dalam pengambilan keputusan menjadi keterampilan yang terus diasah selama masa perkuliahan.
Menurut Dimas, tantangan terbesar di era digital bukanlah munculnya teknologi baru, melainkan kemampuan setiap individu untuk terus belajar dan beradaptasi. Oleh karena itu, pendidikan manajemen memiliki peran penting dalam mencetak lulusan yang mampu melihat peluang di tengah perubahan dan menghadirkan solusi bagi organisasi maupun masyarakat.
Pendekatan pembelajaran yang memadukan teori, pengalaman praktik, serta pengembangan kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan industri, Program Studi Manajemen Universitas Alma Ata berkomitmen menyiapkan lulusan yang siap menghadapi dinamika dunia kerja, mampu memimpin perubahan, dan memberikan kontribusi nyata bagi perkembangan dunia bisnis di masa depan