Yogyakarta – Memasuki dunia kerja tidak cukup hanya bermodalkan ijazah dan kemampuan akademik. Pengalaman berhadapan langsung dengan lingkungan profesional menjadi salah satu bekal penting bagi mahasiswa sebelum menyelesaikan pendidikan tinggi.

Kesempatan memperoleh pengalaman tersebut dapat diberikan melalui program magang di industri. Bagi mahasiswa manajemen, kegiatan magang menjadi ruang untuk melihat secara langsung bagaimana teori yang dipelajari di ruang kuliah diterapkan dalam aktivitas organisasi dan bisnis.

Penelitian menunjukkan bahwa pengalaman magang dapat membantu mahasiswa mengembangkan kemampuan komunikasi, profesionalisme, kerja sama tim, serta pengembangan diri. Pengalaman tersebut juga membantu menghubungkan pembelajaran akademik dengan kebutuhan dunia kerja.

Dosen Program Studi Manajemen Universitas Alma Ata, Dimas Wibisono, S.E., M.B.A., mengatakan bahwa pengalaman industri memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk memahami persoalan organisasi secara lebih nyata.

“Di ruang kelas mahasiswa mempelajari konsep manajemen, sedangkan melalui magang mereka dapat melihat bagaimana konsep tersebut digunakan untuk menyelesaikan persoalan di lapangan. Pengalaman itu penting karena dunia kerja memiliki dinamika yang tidak selalu dapat disimulasikan melalui pembelajaran teori,” ujarnya.

Menurut Dimas, mahasiswa manajemen dapat memperoleh pengalaman dalam berbagai aktivitas, mulai dari pemasaran, administrasi, pengelolaan sumber daya manusia, pelayanan konsumen, operasional, hingga analisis bisnis.

Pengalaman tersebut juga membantu mahasiswa mengenali kekuatan dan kemampuan yang perlu dikembangkan sebelum memasuki dunia profesional. Penelitian terhadap mahasiswa menunjukkan adanya hubungan positif antara persepsi terhadap nilai magang dan kemampuan employability atau kesiapan kerja. (Shaheen et al., 2022)

Bagi Program Studi Manajemen Universitas Alma Ata, pengalaman belajar di luar kelas menjadi bagian penting dalam mempersiapkan mahasiswa menghadapi perubahan kebutuhan industri.

Dimas menambahkan bahwa mahasiswa perlu memanfaatkan masa magang bukan sekadar untuk memenuhi kewajiban akademik, tetapi sebagai kesempatan membangun profesionalisme.

“Mahasiswa perlu belajar datang tepat waktu, berkomunikasi dengan rekan kerja, menerima masukan, menyelesaikan tanggung jawab, dan beradaptasi dengan budaya organisasi. Hal-hal sederhana tersebut justru menjadi pengalaman penting ketika mereka memasuki dunia kerja,” katanya.

Dengan perpaduan antara pembelajaran akademik dan pengalaman industri, mahasiswa manajemen memiliki kesempatan lebih besar untuk memahami hubungan antara teori dan praktik. Pengalaman tersebut diharapkan menjadi bekal dalam membangun karier setelah menyelesaikan pendidikan.