Yogyakarta – Kemunculan berbagai teknologi kecerdasan buatan generatif membuat proses pembelajaran di perguruan tinggi memasuki fase baru. Mahasiswa kini dapat memperoleh penjelasan materi, membuat rangkuman, melakukan brainstorming, hingga mengeksplorasi berbagai alternatif jawaban dalam waktu singkat.

Namun, kemudahan tersebut menghadirkan tantangan baru. Mahasiswa perlu memastikan bahwa penggunaan AI tidak membuat proses belajar berubah menjadi sekadar mencari jawaban instan.

Sebuah studi yang melibatkan mahasiswa menunjukkan bahwa AI generatif digunakan untuk berbagai aktivitas seperti menyusun ide, mengorganisasi pekerjaan, memperbaiki tulisan, dan memahami materi yang sulit. Di sisi lain, penelitian tersebut juga menemukan kekhawatiran mengenai akurasi informasi, integritas akademik, privasi, dan ketergantungan terhadap AI.

Dosen Program Studi Manajemen Universitas Alma Ata, Dimas Wibisono, S.E., M.B.A., menilai bahwa tantangan tersebut justru dapat menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk meningkatkan kemampuan berpikir strategis.

“Mahasiswa manajemen tidak cukup hanya mendapatkan jawaban dari AI. Mereka harus mampu memahami masalah, menentukan pertanyaan yang tepat, mengevaluasi informasi, kemudian mengambil kesimpulan berdasarkan data dan konteks yang ada,” katanya.

Menurut Dimas, kemampuan tersebut sangat dekat dengan praktik manajemen. Seorang manajer tidak hanya membutuhkan informasi, tetapi harus mampu menentukan prioritas, mempertimbangkan risiko, dan mengambil keputusan berdasarkan berbagai alternatif.

Karena itu, penggunaan AI dalam pembelajaran dapat diarahkan pada aktivitas yang lebih produktif, seperti membuat simulasi kasus bisnis, membandingkan strategi pemasaran, menganalisis perilaku konsumen, atau menguji berbagai kemungkinan keputusan organisasi.

Penelitian tentang pendidikan berbasis AI juga menunjukkan perlunya perubahan metode pembelajaran dan penilaian. Pengajar mulai diarahkan untuk menggunakan tugas yang lebih autentik dan berbasis proses agar kemampuan mahasiswa tetap dapat dinilai meskipun tersedia teknologi AI generatif.

Di Program Studi Manajemen Universitas Alma Ata, kemampuan tersebut dapat menjadi bagian dari pembentukan mahasiswa yang adaptif terhadap perubahan teknologi. AI digunakan sebagai pendukung proses pembelajaran, sementara kemampuan analisis, kreativitas, komunikasi, dan pengambilan keputusan tetap dikembangkan melalui aktivitas akademik.

Pola tersebut, teknologi tidak menjadi jalan pintas untuk menghindari proses belajar. Sebaliknya, AI dapat menjadi sarana untuk memperluas eksplorasi mahasiswa sekaligus melatih mereka menghadapi persoalan bisnis yang semakin kompleks.