Yogyakarta – Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) yang terjadi di berbagai sektor industri dalam beberapa waktu terakhir menjadi perhatian banyak pihak. Perubahan ekonomi global, transformasi digital, hingga kebijakan efisiensi perusahaan mendorong sejumlah industri melakukan penyesuaian tenaga kerja. Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi lulusan perguruan tinggi untuk memiliki kompetensi yang mampu menjawab kebutuhan dunia kerja yang terus berubah.
Di tengah situasi tersebut, kemampuan manajerial dinilai menjadi salah satu bekal penting. Tidak hanya memahami teori bisnis, lulusan manajemen dituntut mampu menganalisis persoalan, mengambil keputusan, memimpin tim, hingga menyusun strategi agar organisasi tetap mampu bertahan di tengah perubahan.
Dosen Program Studi Manajemen Universitas Alma Ata, Dimas Wibisono, S.E., M.B.A., menjelaskan bahwa kondisi dunia kerja saat ini membutuhkan sumber daya manusia yang adaptif dan memiliki kemampuan berpikir strategis.
“Perusahaan saat ini tidak hanya mencari lulusan yang memiliki nilai akademik baik, tetapi juga individu yang mampu menyelesaikan masalah, bekerja sama dalam tim, serta mampu mengambil keputusan berdasarkan analisis yang tepat,” ujarnya.
Menurutnya, melalui pembelajaran di Program Studi Manajemen Universitas Alma Ata, mahasiswa dibekali pengalaman menganalisis kasus bisnis, praktik penyusunan strategi perusahaan, hingga pengembangan jiwa kewirausahaan sebagai alternatif menghadapi dinamika dunia kerja.
Ia menambahkan bahwa kemampuan berwirausaha juga menjadi bekal penting ketika kondisi ekonomi sedang tidak menentu. Dengan demikian, lulusan tidak hanya berorientasi menjadi pencari kerja, tetapi juga mampu menciptakan peluang usaha yang berdampak bagi masyarakat.